Adaberitanet
Memberi Informasi Bukan Sekedar Berita


Cinta Kasih yang Mendasari Roh Hidup Kita : Menuju Jalan Tasawuf

0 504

Oleh : Eddie Karsito

AdaBerita I Depok - Disampaikan dalam Acara Kajian Budaya Forum Silaturrahmi Komunitas Sahabat Kartini – Raffles Hills Depok, Kamis, 25 Juni 2020

1) Manusia senantiasa diingatkan untuk memahami budayanya. Mustahil kita bisa mengerti jalan menuju sempurna (ngudi kasampurnaan), jika kita tidak mengerti hidup yang sempurna.

2) Kenali ajaran leluhurmu; mengenali budayanya dengan berbagai motifnya. Diantara nilai-nilai itu terdapat semangat bekerjasama, bergotong royong, menjaga hati, penuh cinta kasih, tenggang rasa; saling asih, saling asah, saling asuh.

3) Ketiadaan cinta kasih dunia akan membeku. Cinta kasih adalah penaka lautan luas dan dalam; seluas dan sedalam daya jelajah nurani manusia itu sendiri.

4) Cinta kasih, adalah akar dari segala kebaikan dan keutamaan hidup manusia.

5) ”Bismillahi rahmaanir rahiim” adalah manifestasi kasih sayang Tuhan ; “Rahmaan” : Dzat Allah yang Maha Kasih, “Rahiim” : Dzat Allah yang Maha Penyayang. ’Basmallah’ : bermakna mengingat Allah (zikrullah). Dalam al-Quran ungkapan ini berulang sebanyak 114 kali. Muslim yang taat selalu membacakan ayat ini tidak kurang dari 17 kali dalam sehari dalam sholatnya.

6) Nabi Isa alaihissalam berpesan; ”Cintailah dirimu, tetanggamu.” Nabi Muhammad SAW pun dalam salah satu haditsnya memberi pedoman, ”Tidaklah beriman seseorang diantara kamu sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

7) “Beritahu kami siapakah paling berbakti pada Tuhan?” Isa alaihissalam, menjawab, “Dia yang beramal hanya karena Allah, tanpa mengharap pujian dari orang lain.” Inilah karakter kezuhudan Isa alaihissalam mencapai maksud-maksud rohani. ”Aku datang untuk melayani, dan tidak untuk dilayani.” (Matius 20:28)

8) Bagi umat Islam, Isa alaihissalam, adalah tokoh yang amat populer karena mewakili sisi asketis (zuhud) dalam ajaran agama. Bahkan sebagian ahli tasawuf menempatkan Isa al-Masih sebagai figur yang merepresentasikan maqam spiritual yang tinggi. Sementara umat Kristiani memandang Isa alaihissalam, sebagai sosok yang merepresentasikan figur ilahi yang manusiawi.

Agama Sebagai Katalisator Budaya
1) Agama hadir di muka bumi untuk memenuhi panggilan kemanusiaan, dengan pembacaan yang lebih humanistik, pluralistik, dan emansipatif.

2) Dalam sejarahnya, Islam telah menjalani proses persinggungan dengan sangat baik karena apresiasi terhadap budaya yang diterapkan pada suatu masyarakat tertentu. Umat beragama bisa menghubungkan tradisi agama yang diyakini dengan realitas kekinian yang sedang dihadapi.

3) Pemahaman teks agama yang kaku, hitam-putih dan tekstualistik, cenderung mengarah pada kemungkinan terjadinya tindak kekerasan, klaim-klaim kebenaran dan sikap anti-pluralisme.

4) Agama mari kita maknai sebagai jalan dan petunjuk. Memahami kehidupan ini dengan tetap di bawah tuntunan ajaran Ilaahi melalui proses “kontekstualisasi” dan “dinamisasi” tiada henti.

5) Islam dan kemanusiaan dua hal saling terkait. Islam adalah tata nilai moral universal. Kemanusiaan adalah dimensi yang menyejarah.

6) Islam diwahyukan Tuhan sebagai ‘agama kerja’ (dinul ’amal). Mengarah pada kerja dan aplikasi nyata. Dan pada saat Islam benar-benar dilaksanakan (amal nyata) maka itulah Islam : rahmatan lil ‘alamin. Hanya dengan cara (amal nyata) itulah Islam menjadi solusi bagi berbagai permasalahan manusia.

7) Islam sebagai ajaran universal, sesungguhnya dapat diterapkan untuk semua orang dari berbagai kalangan. Masyarakat yang mempunyai konstruk budaya dan tradisi apapun dapat menjalankan ajaran Islam. Sebab Islam secara historis selalu menyisipkan prinsip-prinsip substantif dari setiap gerak dan jangkauannya. Prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan untuk penduduk bumi dari belahan dunia mana pun; Islam rahmatan lil ‘alamin.

8) Manusia adalah makhluk yang memikul amanah. “…….dan dipikul amanah itu oleh manusia.” ( QS. al-Ahzab – 33:72). Mengembang tugas-tugas keagamaan (tertib). Mengenali bumi, menguasainya dan kemudian memanfaatkannya dengan inisiatif moral insani, untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (Q.S. al-A’raaf – 7:26)“Berlaku adil karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Q.S. al-Maaidah – 5:8).

Dok. Suasana Kegiatan Kajian Budaya Forum Silaturrahmi Komunitas Sahabat Kartini 

Esensi Risalah
1) “…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorang pun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki..” (QS. An-Nuur: 21).

2) “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Shaad: 46).

3) “Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 47).

Laporan: Kelana

adaberitanet.com

.

Situs web ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda Ya Saya Tau Nanti saja