1500 ANGGOTA ASOSIASI PEMANDU GUNUNG INDONESIA (APGI) SIAP TINGKATKAN KUALITAS

img

1500 ANGGOTA ASOSIASI PEMANDU GUNUNG INDONESIA (APGI) SIAP TINGKATKAN KUALITAS

Bandung, ABN - Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) adalah suatu organisasi berbadan hukum yang berbentuk perkumpulan yang mewadahi profesi pemandu gunung Indonesia. APGI merupakan perkumpulan yang bersifat perseorangan, profesional, non politik, terbuka dan mandiri. APGI yang bertujuan menjadikan profesi Pemandu Gunung Indonesia sebagai pekerjaan profesional serta memiliki Standar Kompetensi tingkat nasional maupun internasional.

 

Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) menggelar Musyawarah Nasional II di Applesun Batu, Malang, Jawa Timur 6-8 Februari 2018. Pada MUNAS II tersebut Cecilia Vita Landra resmi terpilih menjadi Ketua APGI untuk tiga tahun ke depan, menggantikan Ronie Ibrahim selaku Ketua Umum APGI periode 2016 - 2019.

Tujuan-tujuan yang ingin dicapai APGI secara umum adalah :

1. Mewadahi persatuan, komunikasi dan koordinasi Pemandu Gunung Indonesia.

2. Meningkatkan kompetensi Pemandu Gunung Indonesia.

3. Meningkatkan keamanan, keselamatan dan kenyamanan jasa pemanduan gunung di Indonesia.

4. Memajukan kesejahteraan Pemandu Gunung Indonesia.

Sebagai Ketua Umum Terpilih periode 2019 – 2022, Cecilia Vita Landra memastikan bahwa dirinya akan membawa APGI untuk terus meningkatkan kualitas para anggota.  Menurutnya, peningkatan wisatawan pendaki gunung saat ini menuntut pemandu gunung yang berkualitas, bukan hanya sebagai penunjuk jalur saja.

“Oleh karenanya kedepan APGI dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas anggotanya,” 

Saat ini APGI yang beranggotakan sekitar 800 lebih anggota dalam kurun waktu 3 tahun sejak berdirinya, berusaha untuk mengajak kerjasama para ‘stakeholder’, seperti Balai Taman Nasional atau Pengelola Wilayah kaki gunung, Dinas Pariwisata, Dinas Tenaga Kerja untuk bekerjasama dengan APGI. Terutama dalam hal regulasi dasar tentang wajibnya sebuah grup pendakian untuk didampingi pemandu yang sudah memiliki sertifikasi BNSP serta pembinaan dan pelatihan terapan bagi para pemandu gunung dilingkungan setempat.

Hal ini didasari banyaknya anggota APGI para pemandu yang bersertifikasi yang berdomisili di kaki gunung yang sangat membutuhkan binaan dan pelatihan yang tepat guna untuk menjadi profesional sesuai level sertifikasi. Hal ini tidak mungkin bisa dicapai apabila hanya mengandalkan Balai Taman Nasional ataupun Dinas Pariwisata Daerah. DIbutuhkan turun tangan dari dinas lain atau para pengusaha lokal untuk ikut membantu dengan banyak cara,  salah satunya bisa menjadi bapak bina atau bapak asuh dari paguyuban pemandu setempat.

Selain kualitas, APGI juga mendorong peningkatan kuantitas keanggotaan. Dalam tiga tahun ke depan, Target anggota bagi kepengurusan yang baru adalah mencapai jumlah anggota dua kali lipat dari 800 menjadi 1500 orang. 

APGI juga akan menginisiasi pihak terkait untuk memikirkan ‘legal standing’ bagi para pemandu gunung, dimana para pendaki dan wisatawan lokal serta asing harus didampingi guide yang sudah ‘certified’ sesuai dengan klasifikasi gunungnya. Legal standing ini bisa berupa PERDA, KEPMEN atau bahkan UU. 

Hal ini bertujuan untuk membuat tamu pendaki aman dan nyaman dengan berbagai kemudahan fasilitas dan services, akan tetapi juga meningkatkan taraf hidup para pemandu lokal yang ada, yang kemudian akan berdampak dengan ekonomi keluarga yang lebih pasti.. 

Yang pada akhirnya masyarakat pemandu gunung akan melihat bahwa menjadi pemandu gunung profesional yang bersertifikat, adalah salah satu pekerjaan yang bisa menyejahterakan ekonomi masyarakat.

 

(Wendy/Yono)

leave a comment