Politisi Muda Aceh Jaya Meminta Kasus Penganiayaan Pongo Abelii Segera Terungkap

img

Politisi Muda Aceh Jaya Meminta Kasus Penganiayaan Pongo Abelii Segera Terungkap

Sumber foto: YEL SOCP, OUC, dan BKSDA Aceh

Aceh Jaya, ABN - Nasri Saputra, Politis Muda Partai Daulat Aceh (PDA) Aceh Jaya meminta dan mendesak pihak berwenang bekerja ekstra keras untuk mengungkapkan kasus penganiayaan terhadap Pongo Abelii ( Orang hutan Sumatera ) yang ditembak 74 Peluru di kebun warga tepatnya di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam, Aceh, beberapa waktu yang lalu. 

Nasri melalui rilisnya kepada adaberitanet.com menyampaikan, dirinya sangat prihatin, mengecam serta mengutuk keras atas penganiayaan terhadap satwa liar yang dilindungi itu. tindakan pelaku tidak bisa dimaafkan dan ditoleril. Rabu,  13 Maret 2019.

"Ini sunguh biadap, terkadang manusia menganggap satwa liar dilindungi itu sebagai hama, padahal hama sebenarnya itu adalah manusia yang punya otak tetapi tidak bisa mengendalikan akal sehat dan pikirannya," ujar Nasri.

Nasri mengapresiasi BKSDA Aceh,WCS-IP dan HOCRU-OIC, Pusat Karantina Orang Hutan di Sibolangit, atas langkah dan respon cepat dalam mengevakuasi dan upaya penyelamatan Pongo Abelii yang sedang kritis.

"Kita juga meminta pertanggung jawaban Pemkot Subulussalam yang dinilai gagal menjalankan perannya dalam hal perlindunga Satwa Liar yang dilindungi," tegasnya.

Nasri berharap kedepan seperti ini tidak terulangi lagi, maka dari itu ianya berharap pihak berwenang dan pemerintah harus pro aktif melakukan sosialisi perlindungan terhadap satwa liar.

"Satwa - satwa liar itu juga berhak untuk hidup, terkadang kita manusia terlalu tamak, serakah, dan jahat terhadap alam. Padahal alam dan likungan itu tidak akan kenapa - napa tanpa manusia, tapi manusia itu sangat ketergantungan terhadap alam dan lingkungan, hal ini harus betul - betul dipahami," papar pria yang akrap disapa Poen Che'k itu yang saat ini menjabat Sekretaris DPW PD Aceh Kabupaten Aceh Jaya.

"Jika kasus ini terungkap, saya berharap pelaku dihukum sesuai perundang - undangan yang berlaku,"tegasnya.

Sebelumnya di informasikan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sabtu 9/3/2019, melakukan evakuasi orangutan sumatera (Pongo abelii) di kebun warga tepatnya di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam setelah mendapat laporan dari masyarakat.

Tim BKSDA Aceh, Minggu 10/3/2019, bersama dengan personel WCS-IP dan HOCRU-OIC turun ke lokasi dan berhasil mengevakuasi dua individu orangutan terdiri dari anak dan induknya.

Dari pemeriksaan awal di lapangan, diketahui bahwa induk orangutan dalam kondisi terluka parah karena benda tajam pada tangan kanan, kaki kanan serta punggung. Selain itu didapati juga kedua mata induk orangutan terluka parah karena tembakan senapan angin.  Sedangkan bayi orangutan yang berumur 1 bulan, dalam kondisi kekurangan nutrisi parah dan shock berat. Tim kemudian bergegas membawa  kedua orangutan tersebut ke Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, yang dikelola Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melalui Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP), untuk dilakukan perawatan intensif.  Namun dalam perjalanan anak orangutan mati diduga karena malnutrisi.

Dari hasil pemeriksaan x-ray di Pusat Karantina Orangutan, ditemukan peluru senapan angin sebanyak 74 butir yang tersebar di seluruh badan. Kondisi orangutan masih belum stabil sehingga masih akan berada di kandang treatment untuk mendapatkan perawatan intensive 24 jam.

Induk orangutan sumatera berusia sekitar 30 tahun tersebut selanjutnya diberi nama HOPE yang berarti “HARAPAN”, dengan harapan, Hope bisa pulih dan bisa mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

KLHK mengecam keras tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menganiaya satwa liar yang dilindungi undang-undang yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii). BKSDA Aceh telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, melalui Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, untuk mengusut tuntas kasus kematian bayi orangutan sumatera dan penganiayaan induknya, di Subulussalam ini.  

KLHK mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra dan masyarakat yang membantu dalam evakuasi orangutan HOPE. (Mihar/red).
 

leave a comment